No Result
View All Result
SENYUM Suster Praksedes menyembul dari balik pintu kelas tanda pelajaran Bahasa Indonesia akan segera dimulai. Lonceng berdentang kecil, pelan. Suster berjalan masuk. Kami mengucapkan salam hangat.
“Selamat pagi suster,” ujar kami serentak.
“Pagi juga,” ujar Suster dari Biara SSpS ini, sambil merapikan meja kerjanya, mulai menulis dan memberikan bahan pelajaran.
Saya beruntung karena menjadi salah satu dari sekian puluh bahkan ratusan siswa yang pernah diasuh oleh Suster Praksedes, SSpS di lembah Hokeng yang kini porak poranda oleh Bencana Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Kami memiliki dua guru yang kompeten dalam bidang Bahasa Indonesia selain Suster Praksedes, ada Ibu Cici Karnengsih.
Kami mengenal Suster sebagai ibu kami, yang tulus mengajari kami tentang Subjek, Predikat, membangun kalimat pasif dan aktif, cara menulis serta berbahasa yang baik dan benar. Membahasakan uang apa yang kami baca.
Suatu waktu ada perlombaan menulis tentang kisah Soekarno di Ende, beberapa teman ikut menulis, saya juga mencoba menulis meski saya merasa bahasa saya jauh dari sempurna. Tulisan saya sangat pendek.
Karena pertimbangan pribadi dan tidak percaya diri, saya memilih batal mengirim tulisan saya ke panitia di Ende. Namun, Suster Praksedes memeriksa tulisan saya dan menyuruh saya mencoba saja. Dan, saya diikutsertakan dalam menulis meski tak juara. Namun, saya bersyukur di saat saya putus asa, Suster hadir memberi saya peneguhan.
Selain kisah hangat itu, satu kisah lain waktu kami menulis karya Ilmiah. Saya memilih menulis “Menganalisis Kata Serapan dari Bahasa Arab dalam Kotbah Ustadz Jefri Al Buchori”. Suster bersedia menjadi pembimbing saya, dan saya baru tahu ada beberpa kata serapan bahasa Arab yang masuk ke Indonesia seperti “saudara” berarti “Satu dara”.
Kisah hangat ini mengingatkan saya bahwa tangan dingin Suster Praksedes memberi kami ruang bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang tahu etika, menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menjadi ibu, pendoa di saat kami kehilangan harapan.
Saya dan teman-teman tentu merasa bersyukur, di dalam garis tangan Suster itu terwarisi begitu banyak pengetahuan dan kebijaksanaan yang membentuk karakter dan jati diri kami para Seminari kala itu.
Kedua, meski Saya memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) berkat tangan Suster dan Ibu Cici Karnengsih, saya jadi sangat mencintai Bahasa Indonesia. Meski itu bukan menjadi basic saya.
Ketiga, Terima kasih karena saat mengajar kami merasa dididik dengan baik dan nyaman menerima ilmu pengetahuan tanpa rasa takut pada guru.
Selamat jalan Suster Praksedes, kami mendoakan perjalananmu. Semoga doa-doa kami menghibur dan memberimu kekuatan seperti dulu engkau menguatkan kami.
Dari anak didikmu, Alumnus Seminari Hokeng, Yurgo Purab, wartawan detik.com Region Bali-Nusra. (*)
No Result
View All Result