KATAWARGA.ID
Friday, April 3, 2026
  • Login
  • World
  • Opinion
  • National
  • Politics
  • Business
  • Science
  • Hiburan
    Girls Football di Lembata: Remaja MAPAN Plan Indonesia Kampanyekan Kesetaraan Gender dan Pencegahan Perkawinan Anak

    Girls Football di Lembata: Remaja MAPAN Plan Indonesia Kampanyekan Kesetaraan Gender dan Pencegahan Perkawinan Anak

    John Batafor Boyong Rocky Gerung Ke Lembata Jadi Relawan Taman Daun, Ada Kuliah Akal Sehat untuk Anggota DPRD

    John Batafor Boyong Rocky Gerung Ke Lembata Jadi Relawan Taman Daun, Ada Kuliah Akal Sehat untuk Anggota DPRD

    Pemilihan Putra Putri Cilik NTT 2024, Sydney Boko Menuju Grand Final, Bersaing Ketat dengan 15 Finalis

    Pemilihan Putra Putri Cilik NTT 2024, Sydney Boko Menuju Grand Final, Bersaing Ketat dengan 15 Finalis

    Sukses Buka Hadakewa Night Paradise, Pemdes Hadakewa Usung Konsep Wisata Baru Berbasis Agrowisata

    Sukses Buka Hadakewa Night Paradise, Pemdes Hadakewa Usung Konsep Wisata Baru Berbasis Agrowisata

    BisaFest, Malam Pentas Seni Budaya 2022 : Momen Kebangkitan Pariwisata Lembata

    BisaFest, Malam Pentas Seni Budaya 2022 : Momen Kebangkitan Pariwisata Lembata

    Hip Hop Lembata Foundation: 12 Tahun Mendefinisikan Lembata

    Hip Hop Lembata Foundation: 12 Tahun Mendefinisikan Lembata

  • Lifestyle
    • All
    • Health
    • Travel
    Bupati Kanis Rapat dengan Sejumlah Pihak, Imbas Kematian Bayi di Puskesmas Waiknuit

    Bupati Kanis Rapat dengan Sejumlah Pihak, Imbas Kematian Bayi di Puskesmas Waiknuit

    Bupati Lembata Pimpin Rapat Bahas Festival Lamaholot 2025

    Bupati Lembata Pimpin Rapat Bahas Festival Lamaholot 2025

    Dinkes Lembata Akui Sulit Pantau Ratusan Pekerja Seks, Risiko HIV/AIDS Makin Mengintai

    Dinkes Lembata Akui Sulit Pantau Ratusan Pekerja Seks, Risiko HIV/AIDS Makin Mengintai

    Pesta Sambut Baru di Lembata Kuras Miliaran Rupiah, Bank NTT Tawarkan Solusi Finansial

    Pesta Sambut Baru di Lembata Kuras Miliaran Rupiah, Bank NTT Tawarkan Solusi Finansial

    Lembata Rawan Kasus Bunuh Diri, Psikolog NTT “Desak” Pemerintah Beri Perhatian Serius

    Girls Football di Lembata: Remaja MAPAN Plan Indonesia Kampanyekan Kesetaraan Gender dan Pencegahan Perkawinan Anak

    Plan Indonesia Gelar Girsl Football, Ajang Remaja MAPAN Kampanye Kesetaraan Gender dan Pencegahan Perkawinan Anak

    Pemkab Lembata Gelar Rakor, Bahas Ancaman Rabies

    Pemkab Lembata Gelar Rakor, Bahas Ancaman Rabies

    Komitmen Puskesmas dan Plan Indonesia Tahun 2024, Lembata Bebas ODF

    Komitmen Puskesmas dan Plan Indonesia Tahun 2024, Lembata Bebas ODF

    Satu Hari Dinkes Lembata Jadi Klinik Tes HIV, Ada Apa?

    Satu Hari Dinkes Lembata Jadi Klinik Tes HIV, Ada Apa?

    Banyak Pasien BPJS Kesehatan Diarahkan Periksa USG di K24, DPRD Curiga Ada Konspirasi Cari Untung

    Banyak Pasien BPJS Kesehatan Diarahkan Periksa USG di K24, DPRD Curiga Ada Konspirasi Cari Untung

    Trending Tags

    • Golden globes
    • Climate Change
No Result
View All Result
  • World
  • Opinion
  • National
  • Politics
  • Business
  • Science
  • Hiburan
    Girls Football di Lembata: Remaja MAPAN Plan Indonesia Kampanyekan Kesetaraan Gender dan Pencegahan Perkawinan Anak

    Girls Football di Lembata: Remaja MAPAN Plan Indonesia Kampanyekan Kesetaraan Gender dan Pencegahan Perkawinan Anak

    John Batafor Boyong Rocky Gerung Ke Lembata Jadi Relawan Taman Daun, Ada Kuliah Akal Sehat untuk Anggota DPRD

    John Batafor Boyong Rocky Gerung Ke Lembata Jadi Relawan Taman Daun, Ada Kuliah Akal Sehat untuk Anggota DPRD

    Pemilihan Putra Putri Cilik NTT 2024, Sydney Boko Menuju Grand Final, Bersaing Ketat dengan 15 Finalis

    Pemilihan Putra Putri Cilik NTT 2024, Sydney Boko Menuju Grand Final, Bersaing Ketat dengan 15 Finalis

    Sukses Buka Hadakewa Night Paradise, Pemdes Hadakewa Usung Konsep Wisata Baru Berbasis Agrowisata

    Sukses Buka Hadakewa Night Paradise, Pemdes Hadakewa Usung Konsep Wisata Baru Berbasis Agrowisata

    BisaFest, Malam Pentas Seni Budaya 2022 : Momen Kebangkitan Pariwisata Lembata

    BisaFest, Malam Pentas Seni Budaya 2022 : Momen Kebangkitan Pariwisata Lembata

    Hip Hop Lembata Foundation: 12 Tahun Mendefinisikan Lembata

    Hip Hop Lembata Foundation: 12 Tahun Mendefinisikan Lembata

  • Lifestyle
    • All
    • Health
    • Travel
    Bupati Kanis Rapat dengan Sejumlah Pihak, Imbas Kematian Bayi di Puskesmas Waiknuit

    Bupati Kanis Rapat dengan Sejumlah Pihak, Imbas Kematian Bayi di Puskesmas Waiknuit

    Bupati Lembata Pimpin Rapat Bahas Festival Lamaholot 2025

    Bupati Lembata Pimpin Rapat Bahas Festival Lamaholot 2025

    Dinkes Lembata Akui Sulit Pantau Ratusan Pekerja Seks, Risiko HIV/AIDS Makin Mengintai

    Dinkes Lembata Akui Sulit Pantau Ratusan Pekerja Seks, Risiko HIV/AIDS Makin Mengintai

    Pesta Sambut Baru di Lembata Kuras Miliaran Rupiah, Bank NTT Tawarkan Solusi Finansial

    Pesta Sambut Baru di Lembata Kuras Miliaran Rupiah, Bank NTT Tawarkan Solusi Finansial

    Lembata Rawan Kasus Bunuh Diri, Psikolog NTT “Desak” Pemerintah Beri Perhatian Serius

    Girls Football di Lembata: Remaja MAPAN Plan Indonesia Kampanyekan Kesetaraan Gender dan Pencegahan Perkawinan Anak

    Plan Indonesia Gelar Girsl Football, Ajang Remaja MAPAN Kampanye Kesetaraan Gender dan Pencegahan Perkawinan Anak

    Pemkab Lembata Gelar Rakor, Bahas Ancaman Rabies

    Pemkab Lembata Gelar Rakor, Bahas Ancaman Rabies

    Komitmen Puskesmas dan Plan Indonesia Tahun 2024, Lembata Bebas ODF

    Komitmen Puskesmas dan Plan Indonesia Tahun 2024, Lembata Bebas ODF

    Satu Hari Dinkes Lembata Jadi Klinik Tes HIV, Ada Apa?

    Satu Hari Dinkes Lembata Jadi Klinik Tes HIV, Ada Apa?

    Banyak Pasien BPJS Kesehatan Diarahkan Periksa USG di K24, DPRD Curiga Ada Konspirasi Cari Untung

    Banyak Pasien BPJS Kesehatan Diarahkan Periksa USG di K24, DPRD Curiga Ada Konspirasi Cari Untung

    Trending Tags

    • Golden globes
    • Climate Change
No Result
View All Result
KATAWARGA.ID
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Opinion

Dalam Moncong Kekuasaan

Oleh: Gregorius Duli Langobelen, Direktur Eksekutif Tenapulo Research

Redaksi by Redaksi
February 9, 2026
in Opinion
0
Dalam Moncong Kekuasaan

Foto: Direktur Eksekutif Tenapulo Research, Gregorius Duli Langobelen

ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Pemusnahan Miras: Dosa Penjual Arak atau Kebijakan yang Membabi Buta?

Skandal Birokrasi, Ambiguitas Wajah Gereja, dan Etika Perlawanan

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Catatan untuk Memperingati Hari Pers Nasional 2026

“Jika seseorang mengatakan sedang hujan dan orang lain mengatakan cuacanya cerah, bukan tugas anda untuk mengutip keduanya. Tugas anda adalah melihat ke luar jendela dan mencari tahu mana yang benar.”

BERULANG kali kita, sekurang-kurangnya saya, percaya bahwa pers adalah pengeras suara publik. Ia diasumsikan berdiri di ruang terbuka, menampung riuh, lalu mengembalikannya sebagai wacana secara kritis. Namun The Pied Piper of Texas Politics, sebuah buku yang mengisahkan bagaimana kekuasaan, uang, dan propaganda berkelindan dalam politik Texas, menawarkan gambaran yang lebih muram tentang pers.

Buku tersebut membuka tabir lain, bahwa pers kadang bukan sekadar pengeras suara. Ia bisa menjadi seruling atau bunyi musik dari dalam tenda pesta. Liriknya memikat, dentum bass-nya bikin kepala ikut manggut dan kaki berdansa, tapi juga nadanya bisa membuat publik bergerak tanpa sempat bertanya kemana “tubuh” digiring.

The Pied Piper of Texas Politics memang tidak menjabarkan Texas sebagai anomali, melainkan sebagai laboratorium. Di sana, kepentingan ekonomi dan politik bertemu dalam satu bahasa atau lebih tepatnya satu kata, yaitu: pengaruh. Media tidak selalu dibungkam, sebaliknya justru sering dirangkul. Ia dibiayai, disuplai narasi, dan diberi akses. Dari situ, pers tidak lagi berdiri sebagai penengah, melainkan sebagai perpanjangan dari kehendak tertentu. Tapi justru di sinilah bahayanya. Meski suara tidak lagi dibungkam, riuh tak lagi ditekan, tapi selalu ada yang tidak diucapkan dan akan hilang. Dan itu bukan sekadar tentang kebebasan berbicara, melainkan kebebasan untuk tidak mengikuti irama.

Pers di Ruang Publik

Di Indonesia, termasuk juga di Lembata, irama pemerintahan terasa akrab karena adanya pers. Apapun yang terjadi di dunia hari ini langsung jadi “akrab” di mata dan telinga karena pers. Maka media adalah kunci. Tidak heran jika kemudian kepemilikan terhadapnya kian menyempit. Sejumlah konglomerasi akan menguasai televisi, youtube, portal daring, rumah produksi konten, dan tak terkecuali Pemda yang punya Forkopimda. Tapi di situlah soalnya. Di meja redaksi, keputusan editorial sering kali harus melewati pertimbangan yang tak tertulis, yaitu: kepentingan pemilik, relasi politik, atau kalkulasi pasar yang tentu saja menguntungkan siap yang berkuasa.

Lain lagi, ketika klik menjadi mata uang, share menjadi popularitas, maka judul akan menjadi umpan. Ditambah provokasi thumbnail, yaitu gambar pratinjau berukuran kecil yang berfungsi sebagai sampul konten. Foto seorang bupati “titi jagung” bisa jadi salah satu “thumbnail” yang “menjual”. Di situ clickbait bukan sekadar teknik. Ia adalah logika. Kebenaran dikemas bukan lagi untuk dipahami, tetapi untuk dikonsumsi. Situasi ini, persis sebagaimana pada pesta, sebuah lagu ratapan pun bisa dikonsumsi sebagai pengiring joget, persetan isi dari liriknya.

Jürgen Habermas, filsuf dan sosiolog Jerman paling berpengaruh dari generasi kedua Mazhab Frankfurt, pernah membayangkan ruang publik sebagai arena rasional, tempat warga bertukar argumen tanpa paksaan. Pers, dalam bayangan itu, adalah medium yang memungkinkan percakapan berlangsung secara rasional. Tapi Habermas juga mengingatkan bagaimana ruang publik dapat “dikolonisasi” oleh sistem, uang dan kekuasaan. Bukan jadi rahasia lagi kalau di ruang publik kita hari ini, kolonisasi itu hadir dalam bentuk komodifikasi perhatian. Ruang publik berubah menjadi pasar, arena jual beli isu, argumen menjadi konten, dan sekali lagi warga hanya menjadi audiens atau konsumen pasif.

Di titik ini, The Pied Piper of Texas Politics yang saya singgung pada awal tulisan ini menemukan resonansinya. Kepada kita, ditunjukkan bagaimana narasi politik diproduksi bukan untuk memperkaya debat, mempertajam analisa kebijakan, melainkan untuk mengarahkan emosi, atau mungkin lebih tepat mempermainkan dan mengendalikan selera, sebagaimana rayuan bunyi suling. Perlu untuk diketahui, Pied Piper adalah istilah yang merujuk pada sosok legendaris “Peniup Seruling dari Hamelin” yang memikat tikus dan anak-anak dengan musiknya, yang kemudian ditafsir sebagai seseorang yang memikat pengikutnya melalui janji manis atau karisma, dan seringkali berujung pada bahaya atau pengkhianatan.

Nah, pers, ketika larut dalam logika di atas, maka akan kehilangan fungsi korektifnya. Ia tidak lagi bertanya “mengapa”, melainkan “berapa banyak yang menonton”. Ketakutan, kemarahan, dan harapan bisa-bisa hanya disederhanakan menjadi slogan mentah yang sering digaungkan salah satu media besar di tanah air ini: “kami kabarkan, anda putuskan”.

Pers dalam Moncong Forkopimda?

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dalam The Elements of Journalism, menyebut bahwa tujuan utama jurnalisme adalah kebenaran. Namun, bukan kebenaran metafisik, melainkan kebenaran yang diverifikasi. Jurnalisme, kata mereka, harus setia pada warga (rentan), bukan pada pemilik (kekuasaan) atau pengiklan. Prinsip ini terdengar normatif, bahkan naif, di tengah realitas industri media hari ini. Namun justru di situlah rohnya. Ketika pers melupakan kesetiaannya pada warga (rentan), ia kehilangan legitimasi moralnya.

Relasi pers dan politik kita sering kali bersifat simbiotik. Politisi dan pejabat membutuhkan panggung, media membutuhkan akses dan iklan. Dalam hubungan ini, jarang ada yang benar-benar netral. Yang ada adalah negosiasi. Berita menjadi hasil tawar-menawar: apa yang bisa ditayangkan? apa yang sebaiknya ditunda? apa yang harus dipelintir? Itu bisa dikondisikan. Publik, dengan demikian, menerima produk akhir tanpa mengetahui proses di belakangnya. Transparansi menjadi korban pertama.

Jika demikian riset lapangan yang panjang, pembacaan dokumen kebijakan, wawancara dengan aktor marginal, serta keberanian menyimpulkan pola kekuasaan tidak mungkin lagi menjadi ciri utama karya-karya yang dihasilkan insan pers. Muncul pertanyaan besar: dalam moncong kekuasaan apa dan siapa pers kita bekerja?

Tak perlu jauh-jauh mencari sampel. Dalam pengalaman kita di Lembata, di tengah derasnya arus digitalisasi, bisa dilacak bagaimana produksi berita dan tekanan algoritma, membuat jurnalisme justru semakin miskin riset. Tidak sedikit media terjebak pada reproduksi siaran pers, kutipan dangkal dari elite, dan liputan permukaan yang tidak menyentuh akar persoalan.

Masih ingat kan fakta menarik yang kita dengar beberapa waktu terakhir, bahwa demi kepentingannya PT PLN dilaporkan merekrut sekitar 30 jurnalis untuk menyebarkan pesan pro terhadap proyek geothermal di Flores dan sekitarnya? Apakah dari 30 jurnalis itu ada yang bertugas atau ditugaskan di Lembata? Saya tak paparkan jawabannya di sini. Tapi saya teringat kutipan dari injil Matius 26:48: “Orang yang kusalami dengan ciuman, itulah Dia” yang diplesetkan oleh seorang teman dalam nada kelakar: “siapa yang turun dari mobil mereka, itulah dia.”

Di kesempatan yang berbeda, ada fakta lain juga yang hampir tidak bisa dibantah, yaitu ada kesan bahwa media-media kita seringkali hanya jadi semacam perpanjangan tangan pemerintah melalui release Forkopimda. Begitu Forkopimda me-release berita super positif versi pemerintah, tidak butuh waktu yang lama untuk direproduksi ramai-ramai. Mungkinkah ini karena ada kerjasama atau kontrak dengan biaya tertentu, atau memang murni ingin membantu pemerintah (baca: kekuasaan)? Jika ada semacam kerjasama terselubung, apakah itu berarti mereka bekerja dalam moncong kekuasaan?

Ironisnya, kondisi ini sering dibungkus dengan klaim “objektivitas”, “netralitas” atau “keseimbangan”, seolah-olah keberpihakan pada kebenaran dan kepentingan publik khususnya kelompok rentan adalah sesuatu yang harus dihindari. Seolah-olah netralitas adalah sikap asali pers. Dalam situasi seperti ini, klaim netralitas sering kali hanya berfungsi sebagai tameng untuk menghindari konflik dengan pemilik modal, pengiklan, atau penguasa politik.

Dan situlah soal lanjutannya: kerja-kerja tersebut tidak lahir dari riset serius dan analisis kritis. Dalam bahasa yang lain ada absennya kerja intelektual. Padahal, jati diri pers justru menuntut standar profesional yang lebih tinggi: verifikasi ketat, konteks, dan keberanian menantang narasi dominan. Sebab, “jika seseorang mengatakan sedang hujan dan orang lain mengatakan cuacanya cerah, bukan tugas anda [jurnalis] untuk mengutip keduanya. Tugas anda [sebagai jurnalis] adalah melihat ke luar jendela dan mencari tahu mana yang benar.”

Dalam kerangka teori agenda-setting, McCombs dan Shaw melihat bahwa situasi ini semakin menebalkan tesis bahwa media bersangkutan bukan hanya telah gagal menentukan isu apa yang penting, tetapi justru membiarkan kepentingan politik dan ekonomi eksternal mendikte prioritas pemberitaan. Media gagal menjadi gatekeeper of salience, yaitu penjaga kepentingan isu. Ketika media sibuk mereproduksi release, isu-isu struktural seperti ketimpangan ekonomi (nasib honorer, pedagang kecil, dan para buruh), krisis ekologis (ancaman proyek geothermal), serta reformasi kebijakan publik, terancam tenggelam.

Pers yang Siap Bertarung

Esai ini tentu saja bukan sikap yang menolak kehadiran pers di Lembata, tapi sebaliknya adalah dukungan sekaligus harapan akan Pers Lembata yang siap bertarung demi kebenaran, demi kepentingan kelompok rentan. Tentu saja ini harapan yang bisa dibilang terlalu ideal di tengah himpitan kekuatan politik dan ancaman ekonomi. Maka, mungkin pers kita tidak harus memilih antara idealisme dan keberlanjutan ekonomi (sesuatu yang seringkali jadi alsan yang mengancam eksistensinya).

Yang kita butuhkan bagi pers kita adalah kesadaran etis. Kesadaran bahwa setiap judul, setiap bingkai, setiap keputusan editorial membentuk cara publik memahami dunia. Habermas memberi kita kerangka; Kovach dan Rosenstiel memberi kita kompas; The Pied Piper of Texas Politics memberi kita peringatan; suara ibu-ibu pedagang memberi kita alarm.

Semuanya bertemu dalam satu pertanyaan: apakah pers masih menjadi ruang percakapan, atau telah berubah menjadi alat yang bekerja dalam moncong kekuasaan? Di Hari Pers Nasional, pertanyaan ini terasa mendesak. Bukan untuk dirayakan dengan slogan, melainkan direnungkan dengan jujur.

Mungkin, jawaban tidak datang dalam bentuk solusi besar, tapi hadir dalam sikap kecil, misalnya: redaksi yang menolak pesanan terselubung, jurnalis yang memverifikasi ulang meski dikejar tenggat, pembaca yang memilih untuk tidak terpancing judul murahan. Di antara kebisingan kekuasaan dan algoritma politik ekonomi, masih ada ruang untuk diam, atau lebih tepat ruang untuk berpikir dan siap bertaruh.

Akhirnya, jika pers adalah seruling, maka ia bisa memilih nadanya. Ia bisa memikat untuk menidurkan, atau mengganggu untuk membangunkan. Di situlah politik pers kita dipertaruhkan. Bukan di moncong kekuasaan semata, melainkan di keberanian untuk menjaga jarak darinya.(*)

ShareTweetPin

Related Posts

PLN Tegaskan Pengembangan Geothermal Berbasis Ilmiah, Akademisi Pastikan Manifestasi Alamiah

PLN Tegaskan Pengembangan Geothermal Berbasis Ilmiah, Akademisi Pastikan Manifestasi Alamiah

by Redaksi
March 31, 2026
0

PENGEMBANGAN panas bumi di wilayah Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mendapat penegasan dari kalangan akademisi. Ahli geothermal,...

PLN Perkuat Kepastian Hukum Proyek Geothermal Atadei, Sinergi BPN Dukung PSN dan Transisi Energi

PLN Perkuat Kepastian Hukum Proyek Geothermal Atadei, Sinergi BPN Dukung PSN dan Transisi Energi

by Redaksi
March 31, 2026
0

KEPALA Kantor Pertanahan (BPN) Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yance Adrianus Talan, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mengawal proses...

Bupati Lembata Sebut Pengembangan Geothermal Atadei Mampu Dongkrak Hilirisasi Sektoril

Bupati Lembata Sebut Pengembangan Geothermal Atadei Mampu Dongkrak Hilirisasi Sektoril

by Redaksi
March 31, 2026
0

BUPATI Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Petrus Kanisius Tuaq, menilai pengembangan geothermal di Atadei selaras dengan visi hilirisasi sektoral...

Bank NTT Perkuat Digitalisasi Keuangan Koperasi TKBM Lembata

Bank NTT Perkuat Digitalisasi Keuangan Koperasi TKBM Lembata

by Redaksi
March 28, 2026
0

BANK NTT Cabang Lewoleba mempertegas langkah ekspansi kemitraan sektor riil dengan menggandeng Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat Kabupaten Lembata sebagai...

BREAKING NEWS-Fiskal Kritis, Lembata Berisiko Gagal Buka Rekrutmen ASN 2026

BREAKING NEWS-Fiskal Kritis, Lembata Berisiko Gagal Buka Rekrutmen ASN 2026

by Redaksi
March 24, 2026
0

PEMERINTAH Kabupaten Lembata menghadapi dilema serius terkait rencana pengadaan Aparatur Sipil Negara (ASN) tahun 2026. Di satu sisi, kebutuhan tenaga...

Next Post
Media Dinilai Dukung Muro di Fase Awal, Barakat Dorong Peran Verifikasi dan Jurnalisme Solusi

Media Dinilai Dukung Muro di Fase Awal, Barakat Dorong Peran Verifikasi dan Jurnalisme Solusi

Ketua MUI Lembata Ajak Umat Sambut Ramadhan 1447 H dengan Tingkatkan Iman dan Jaga Kerukunan

Ketua MUI Lembata Ajak Umat Sambut Ramadhan 1447 H dengan Tingkatkan Iman dan Jaga Kerukunan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RECOMMENDED

PLN Tegaskan Pengembangan Geothermal Berbasis Ilmiah, Akademisi Pastikan Manifestasi Alamiah

PLN Tegaskan Pengembangan Geothermal Berbasis Ilmiah, Akademisi Pastikan Manifestasi Alamiah

March 31, 2026
PLN Perkuat Kepastian Hukum Proyek Geothermal Atadei, Sinergi BPN Dukung PSN dan Transisi Energi

PLN Perkuat Kepastian Hukum Proyek Geothermal Atadei, Sinergi BPN Dukung PSN dan Transisi Energi

March 31, 2026

MOST VIEWED

  • Tak Hanya Kabur dan Tidak Bayar Uang Sewa Hotel, Penipu Kelas Berat Arnol Ola Juga Terlibat Kasus Penggelapan

    Tak Hanya Kabur dan Tidak Bayar Uang Sewa Hotel, Penipu Kelas Berat Arnol Ola Juga Terlibat Kasus Penggelapan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buser Polres Flotim Berhasil Ringkus Arnold Ola, Penipu Kelas Kakap itu Kabur dan Tidak Bayar Tagihan Hotel, Jumlahnya Rp 25 Juta Lebih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buser Polres Flotim Tangkap Lima Remaja Perempuan di Lembata, Mereka Pelaku Pengeroyokan di Larantuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahaya, Penjabat Bupati Lembata Matheos Tan Lapor Akun FB Agus Nuban Ke Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BREAKING NEWS – Pulang dari Boto, Polisi FP Dipukul di Belang, Diduga Pelakunya Anggota Satpol PP Lembata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Katawarga.ID menyajikan berita dan informasi di seluruh Nusantara secara lugas dan independen.

CATEGORY

  • Berita Utama
  • Business
  • Health
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • National
  • Opinion
  • Politics
  • Regional
  • Science
  • Sports
  • Travel
  • Uncategorized

SITE LINKS

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Landing Page
  • All Features
  • Get JNews

© 2022 - Katawarga.ID

No Result
View All Result
  • World
  • Opinion
  • National
  • Politics
  • Business
  • Science
  • Hiburan
  • Lifestyle

© 2022 - Katawarga.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In