ADVERTISEMENT
PAGI belum sepenuhnya membuka mata ketika langkah-langkah itu mulai menapaki jalur pegunungan Lebatukan. Sekira pukul 07.00 Wita, Sabtu (17/1/2026), masyarakat adat yang tergabung dalam Etnis Lamatuka berjalan kaki dari Desa Banitobo menuju sebuah bukit yang jaraknya tidak dekat dan jalurnya tidak ringan. Namun, jarak dan lelah seolah kehilangan makna. Sebab tujuan mereka bukan sekadar sebuah tempat, melainkan asal-usul.
Bukit itu bernama Nuba. Bagi orang Lamatuka, Nuba bukan sekadar bentang alam di kawasan Lera Lodo, melainkan pusat ingatan kolektif tentang tempat kelahiran empat suku besar: Ruing, Lasar, Tukan, dan Lengari. Dari punggung bukit itulah, sejarah orang Lamatuka bermula dan menyebar, melintasi generasi dan wilayah.
Di puncak Bukit Nuba berdiri Gua Maria Pae Hati. Sebuah ruang hening yang oleh masyarakat adat diyakini sebagai pusat asal muasal lahirnya keempat suku tersebut. Di dalam gua itu, iman Katolik dan kosmologi adat bertemu tanpa saling meniadakan. Di sinilah spiritualitas lokal menemukan wajahnya yang paling jujur: menyatu, bukan bersaing.
Sabtu pagi itu, para kepala suku menggelar seremonial adat menghantar arwah leluhur kembali ke tempat asalnya. Ritus ini oleh orang Lamatuka disebut Was’sa Do’pi Lolo Wua Ol’le Tebako dan Bau Tua Lol’ne Wah’ne, dipimpin Di’ke Be’ele Lewu Tana. Ritual ini bukan tanpa sebab. Beberapa waktu lalu, Gua Pae Hati dipugar. Sebelum pemugaran dilakukan, arwah leluhur dipindahkan sementara. Maka, setelah gua rampung, hukum adat menuntut satu hal yakni leluhur harus diantar pulang.
Usai ritual adat, seluruh warga mengikuti perayaan Ekaristi sekaligus pemberkatan Gua Maria Pae Hati yang dipimpin Pastor Paroki Hadakewa, Romo Blasius Keban. Setelahnya, rangkaian adat kembali dilanjutkan melalui upacara Te’te Manu dan Belu Ewa Belehta, serta Par’ra Bor’ri dan Bet’ti Gol’le, Kus’re Wal’re. Semua mengalir dalam satu tarikan nafas yaitu adat dan iman, masa lalu dan masa kini.
Servasius Lele, Ketua Suku Ruing, menuturkan bahwa Bukit Nuba adalah tempat nenek moyang mereka menetap pertama kali setelah peristiwa tenggelamnya Pulau Lepanbatan. Dari tragedi ekologis itulah lahir sebuah peradaban baru. Empat suku berkembang, beranak-pinak, dan kini mendiami hampir separuh wilayah Lebatukan, bahkan menyebar hingga Lewoleba, Hokeng di Flores Timur, dan ke luar NTT.

ADVERTISEMENT
Setiap suku memegang peran sesuai tatanan adat. Ruing sebagai sulung, Tukan anak tengah, Lengari si bungsu, dan Lasar penjaga kampung. Ada pula suku kecil Lewuras yang berperan sebagai pelayan adat. Sebuah sistem sosial yang telah berjalan lintas abad, tertib tanpa kitab, kokoh tanpa arsip tertulis.
Benediktus Ponu, Ketua Suku Lazar, menambahkan kisah panjang migrasi leluhur mereka. Dolu Sinu, nenek moyang mereka, membawa lima suku mengungsi dari Lepanbatan yang tenggelam. Dari pantai Wainere, melalui gua di pesisir, mereka menembus alam hingga tiba di Bukit Nuba. Dari sanalah wilayah-wilayah adat di pegunungan Lebatukan dibagi: Lebelang (Watobai), Tange Temai (Hidalabi), Keo Gleko (Benalar), dan Besei.

Bukit Nuba juga menjadi altar alam untuk memohon hujan sebuah praktik ekologis yang menempatkan manusia sebagai bagian dari semesta, bukan penguasanya.
Kepala Desa Banitobo, Ignatius Koda, menegaskan bahwa pemugaran Gua Pae Hati merupakan kesepakatan seluruh suku dalam etnis Lamatuka dan dibiayai melalui dana desa. Bukan semata proyek fisik, melainkan perwujudan kerinduan kolektif yang telah lama disimpan dan akhirnya masuk dalam RPJMDes.

“Pemerintah hanya memfasilitasi dari sisi anggaran,” ujarnya. Pernyataan yang menegaskan satu hal penting bahwa pembangunan yang berakar pada kehendak budaya akan lebih tahan lama daripada yang sekadar mengejar target.
Apresiasi juga datang dari Kepala Desa Lamalela, Rafael Kupang. Ia berharap hajatan adat dan ekaristi di Bukit Nuba menjadi agenda rutin.
Lebih jauh, ia bertekad mengarsipkan seluruh tradisi Lamatuka agar tidak hanya hidup dalam tutur, tetapi juga terbaca oleh generasi mendatang.
Sementara itu, Kepala Desa Lamatuka, Fransiskus Benediktus, mendorong agar Bukit Nuba terus menjadi ruang perjumpaan adat tahunan, termasuk ritual minta hujan, sekaligus ikon wisata adat Lembata. Apalagi, bukit itu pernah menjadi lokus kegiatan budaya Sare Dame Pemerintah Kabupaten Lembata beberapa tahun silam.
























