MASYARAKAT adat yang tergabung dalam Etnis Lamatuka menggelar upacara adat menghantar masuk arwah leluhur ke tempatnya di Bukit Nuba, bersamaan dengan misa pemberkatan Gua Maria Pae Hati, Sabtu (17/1/2026). Dua peristiwa sakral ini berlangsung di Bukit Nuba, Dusun Lela Lolon, Desa Banitobo, dan diikuti seluruh rumpun suku Lamatuka.
Rangkaian kegiatan tersebut menandai perjumpaan harmonis antara tradisi adat dan iman Katolik yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat. Prosesi adat dilakukan lebih dahulu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, sebelum dilanjutkan dengan perayaan misa pemberkatan Gua Maria Pae Hati.
Antonius Laga Lengari, warga Desa Banitobo, menjelaskan bahwa ritual adat menghantar arwah leluhur dilaksanakan menyusul selesainya perbaikan dan pembangunan Gua Maria Pae Hati. Gua tersebut berada pada satu kawasan dengan lokasi yang diyakini sebagai tempat bermukimnya arwah leluhur Orang Lamatuka.
“Karena ada perbaikan dan pembangunan gua maka secara adat, leluhur harus diantar kembali ke tempatnya,” ujar Antonius.
Prosesi adat dipimpin para pemangku adat dari Suku Ruing, Suku Tukan, Suku Lazar, dan Suku Lengari. Setelah ritual adat berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan misa pemberkatan Gua Maria Pae Hati yang dipimpin Pastor Paroki Hadakewa, Romo Blasius Keban.
John Ruing, warga Banitobo lainnya, menuturkan bahwa Bukit Nuba memiliki kedudukan sentral dalam kosmologi masyarakat Lamatuka. Bukit tersebut dipercaya sebagai tempat bermukimnya arwah leluhur dari seluruh suku dalam rumpun Lamatuka sejak dahulu kala.
“Bukit Nuba itu pusat asal muasal semua suku di Lamatuka,” kata John.
Kawasan adat Lamatuka meliputi wilayah Besei, Lebelang, Hidalabi, Benalar, Ilewutung, dan Dangalangu. Di kawasan ini terdapat lima suku utama, yakni Ruing, Lazar, Tukan, Lengari, dan Lewuras. Wilayah Banitobo dan sekitarnya dikenal sebagai Lera Lodo, sementara wilayah Lodoblolong, Lamadale, dan sekitarnya disebut Lera Gere.
Antonius Laga Ruing menambahkan, Bukit Nuba juga menjadi pusat peribadatan tahunan umat Katolik setempat. Setiap tanggal 8 Desember, perayaan misa atau ibadat selalu dilaksanakan di lokasi tersebut.
“Kalau tidak ada pastor, ibadat tetap dilaksanakan secara sederhana. Yang penting, setiap tahun harus ada ibadat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Banitobo, Ignatius Koda, dalam keterangan tertulis yang diterima katawarga.id, menjelaskan bahwa sebelum misa pemberkatan, Gua Maria Pae Hati terlebih dahulu direhabilitasi. Perehaban tersebut merupakan bagian dari program pembangunan Desa Banitobo di bidang pembangunan fisik.
“Setelah semua pekerjaan selesai, barulah dilakukan pemberkatan gua dan seremonial adat. Seluruh etnis Lamatuka hadir,” kata Ignatius.
























