No Result
View All Result
KALAU ada pejabat (atau bukan pejabat) yang kaya raya minta ampun, sampai-sampai harga tas tenteng isi tisu bekas lap keringat saja setara ongkos seminggu MBG untuk satu SD maka urusannya bisa lebih kompleks daripada sekadar “dia sudah kaya dari sebelum jadi pejabat.”
Urusannya justru ada pada sistem ekonomi negara yang menciptakan kesenjangan dan kemiskinan struktural.
Ada orang yang punya akses meraup uang miliaran rupiah, punya sepatu berhias emas dan permata, punya istana berhektar-hektar, lantas di saat yang sama, ada yang bahkan tidak punya akses untuk beli beras, tidak bisa dapat pekerjaan, tidak bisa pergi ke sekolah, tidak bisa berobat ke rumah sakit, tidak bisa beli pensil atau beli pakaian seragam bekas.
Di negara yang sistem ekonominya begitu timpang, urusan kaya dan miskin itu bukan perkara siapa yang bekerja paling keras, atau siapa yang paling banyak sabar, tawakal, bersedekah, dan berdoa tikam kepala, tetapi urusannya ada pada ketersediaan akses.
Kalau sipit-sipit pakai bahasa alkitab begini: Ada yang punya akses untuk menjadi tuan yang duduk di meja makan dan makan roti cokelat isi daging sapi, dan ada yang hanya ngesot di lantai dan menikmati remah-remah roti yang jatuh dari meja tuannya.
Kalau ada yang tidak melihat ini sebagai masalah, maka kemungkinannya hanya satu: dialah pelayan yang menyediakan roti di meja makan tuannya.(*)
No Result
View All Result