SENJA belum benar-benar turun ketika langkah Jimmy Sunur memasuki Desa Normal, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata beberapa hari lalu. Undangan berbuka puasa bersama itu menjadi lebih dari sekadar perjamuan, ia berubah menjadi ruang temu yang hangat antara seorang dokter, akar keluarga, dan masyarakat yang tak asing baginya.
Di halaman sederhana desa, sapaan bersahut-sahutan. Tokoh agama, kepala desa, hingga warga menyambutnya tanpa jarak. Percakapan mengalir ringan, diselingi tawa yang terasa akrab. Bagi Jimmy, suasana itu bukan sesuatu yang baru. Desa Normal, baginya, adalah potongan masa lalu yang masih hidup, tempat ia pernah tumbuh hingga usia remaja.
Dalam perjumpaan yang cair itu, Jimmy tak sekadar hadir sebagai dokter spesialis kandungan yang sehari-hari mengabdi di RS Damian Lewoleba. Ia datang sebagai “anak kampung” yang pulang, menyapa dengan bahasa Kedang yang fasih, bahasa yang mengikat ingatan dan kedekatan.
Beberapa kalimat dalam dialek lokal itu sontak mencairkan suasana. Warga tersenyum, sebagian mengangguk pelan. Ada rasa memiliki yang menguat bahwa di tengah perjalanan hidupnya, Jimmy tetap bagian dari mereka.
Menjelang waktu berbuka, Jimmy diberi kesempatan berbicara. Ia tidak memilih kata-kata yang tinggi. Dengan sederhana, ia mengajak warga muslim merenungkan makna puasa sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah 183 bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi jalan menuju ketakwaan.
“Kita diwajibkan memakai puasa lebih dalam lagi,” ujarnya pelan.

























