No Result
View All Result
PARTAI Golkar Kabupaten Lembata tampaknya belum selesai dengan dirinya sendiri. Di Aula Anton Enga Tifaona, Lewoleba, Sabtu, 17 Januari 2026, partai berlambang pohon beringin itu kembali menggelar bimbingan teknis dan konsolidasi kader. Agenda yang pada permukaannya tampak rutin, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan politik yang belum tuntas sejak Pilkada 2024.
Ketua DPD II Golkar Lembata, Petrus Gero, membuka pertemuan yang dihadiri hampir seluruh spektrum internal partai yakni sekretaris, anggota DPRD, kader, simpatisan, hingga penyelenggara pemilu seperti Bawaslu, KPU, dan Kesbangpol. Sebuah formasi lengkap yang seolah menegaskan satu pesan bahwa Golkar tak ingin kembali tersesat dalam kontestasi berikutnya.
Namun sorotan forum itu perlahan mengerucut pada satu nama yakni Jimmy Sunur.
Mantan calon bupati Lembata itu tampil bukan sebagai politisi yang sedang meratap kekalahan, melainkan sebagai kader yang menimbang ulang kegagalan dengan kepala dingin. Dalam pemaparannya, Jimmy membaca peta politik lokal dengan cara yang jarang terdengar di ruang-ruang konsolidasi partai daerah, sangat terukur, berbasis data, dan berorientasi eksekusi.
Jimmy mengingatkan bahwa Golkar sejatinya memiliki sistem kaderisasi yang relatif lebih tertib dibanding partai lain. Jalur survei, kata dia, bukan sekadar formalitas, melainkan mekanisme penyaringan kader agar partai tak dipenuhi figur “abal-abal” atau kutu loncat. Ia berbicara dari pengalaman. Dua kali mengikuti survei Charta Politika dan LSI menjelang Pilkada 2024, namanya konsisten berada di posisi teratas di internal Golkar.
Fakta itu penting, tetapi bukan untuk membenarkan klaim personal. Bagi Jimmy, kekalahan Golkar pada Pilkada lalu bukan terletak pada figur, melainkan pada kerja tim dan mesin partai yang gagal menjangkau akar rumput secara utuh. Di titik inilah “kritiknya” menjadi relevan dan terasa jujur.
Sebagai dokter spesialis kandungan yang terbiasa bekerja dengan presisi dan keputusan cepat, Jimmy memandang politik sebagai kerja kolektif yang menuntut disiplin organisasi. Ia menyebut kemenangan di hampir separuh wilayah Lembata seperti Atadei, Ile Ape, Ile Ape Timur, Lebatukan, dan Nagawutung merupakan bukti bahwa pendekatan terukur bisa bekerja. Kekalahan di Buyasuri dengan selisih sekitar empat ribu suara, baginya, justru menegaskan satu hal, Golkar kalah bukan karena tak dipercaya rakyat, tetapi karena tak cukup rapi mengelola energi politiknya.
Alih-alih mundur, Jimmy justru menegaskan ambisinya untuk kembali maju pada Pilkada 2030. Pernyataannya lugas, nyaris tanpa spekulasi bahwa maju lewat pilihan rakyat atau mekanisme DPRD, ia siap. Sikap ini mencerminkan watak politik yang jarang dipelihara untuk tetap konsistensi dan keberanian mengambil resiko jangka panjang.
Ia juga menyinggung satu kekurangan klasik partai tua yaitu keterlambatan membaca lanskap digital. Menurut Jimmy, Golkar Lembata membutuhkan mesin kampanye digital yang bekerja masif, sistematis, dan berkelanjutan, bukan sekadar aktif menjelang pemilu. Politik, dalam pandangannya, tak lagi cukup digerakkan oleh baliho dan rapat tertutup.
Data Pilkada 2024 memang menunjukkan Golkar belum menang. Pasangan Jimmy Sunur–Lukas Witak meraih 17.221 suara atau 23,88 persen, berada di bawah pasangan Petrus Kanisius Tuaq–Muhammad Nasir yang menang dengan 27,34 persen. Namun angka-angka itu juga menunjukkan sesuatu yang lain bahwa Jimmy Sunur bukan figur pinggiran, dan Golkar masih memiliki basis elektoral yang signifikan jika dikelola dengan cerdas.
Bimtek dan konsolidasi itu akhirnya terasa seperti cermin besar bagi Golkar Lembata. Partai ini tak kekurangan kader potensial. Yang dipertaruhkan kini adalah keberanian melakukan koreksi struktural dan memberi ruang lebih luas bagi figur-figur progresif seperti Jimmy Sunur, kader yang tak hanya pandai membaca peluang, tetapi juga memahami bagaimana kebijakan harus dieksekusi.
Jika Golkar sungguh ingin kembali menang, barangkali jawabannya bukan pada slogan baru, melainkan pada kesediaan mendengar kader yang sudah lebih dulu membaca masa depan.(*)
No Result
View All Result