PEMBANGUNAN Jembatan Bliko di Kecamatan Wotan Ulumado, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, menjadi bukti nyata hadirnya infrastruktur berkualitas di Nusa Tenggara Timur. Proyek strategis ini menggunakan material dan teknologi setara dengan pembangunan jalan tol di Indonesia.
Koordinator Pengawas PPK dari Satker PJN IV Provinsi NTT Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) NTT, Yunus Orapau, mengungkapkan bahwa jembatan ini dibangun dengan konstruksi beton pracetak dari Wika Beton, yang dikenal memiliki kekuatan dan daya tahan tinggi.
“Beton dari Wika Beton sudah teruji kuat, bahkan digunakan juga untuk konstruksi jalan tol. Umur jembatan ini bisa mencapai 50 tahun,” ujar Yunus saat ditemui di lokasi proyek, Senin (6/10/2025) sore.
Menurutnya, hingga awal Oktober 2025, progres pembangunan Jembatan Bliko terus menunjukkan hasil menggembirakan. Pekerjaan utama seperti pondasi, bangunan bawah, hingga erection atau pemasangan balok prategang dengan bentang 35,8 meter sebanyak lima balok telah rampung.
Saat ini, kontraktor tengah fokus menyelesaikan slab deck, pembesian, dan pekerjaan jalan pendekat (oprit) di kedua sisi jembatan.
Jembatan yang memiliki panjang 35 meter dan total lebar 9 meter ini dibangun menggunakan pondasi sumuran sedalam 4 meter dengan diameter 4 meter. Proyek bernilai lebih dari Rp18 miliar ini bersumber dari APBN dan berada di bawah pengawasan ketat BPJN NTT dan Satker PJN IV Provinsi NTT, bersama tim konsultan supervisi yang setiap hari memastikan mutu, waktu, dan biaya berjalan sesuai standar.

Manajer Pelaksana PT Kurnia Mulia Mandiri, Vitalis Nahak, juga memastikan seluruh pekerjaan dikerjakan secara profesional dan disiplin.
“Kami pastikan pekerjaan ini selesai tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya,” tegas Vitalis.

























